Dampak Negatif dari Chatting

Ini adalah kisah nyata, pelakunya menulis kepada temannya dan memintanya supaya dimuat di internet agar bisa dijadikan pelajaran berharga bagi setiap gadis yang menggunakan internet. Dan saya menceritakan kembali peristiwa yang mengharukan ini agar peristiwa yang dialami pelaku benar-benar dapat menjadi pelajaran berharga bagi siapapun yang membacanya. Berikut adalah kisahnya :

“Bismillahir rahmanir rahim. Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Sobatku yang mulia, setelah bismillah dan salam, tentu kamu tidak akan percaya terhadap apa yang telah terjadi pada diriku dan yang kulakukan dengan kesadaran penuh. Kamu satu-satunya orang di dunia ini yang mengetahui rahasiaku. Hanya satu keinginanku di dunia ini, yaitu ampunan dari Allah dan agar kematian menjemputku sebelum aku membunuh diriku. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan pada diriku sendiri. Keputusan telah menyelimutiku. Semua yang ada di depan mataku hanyalah kegelapan diatas kegelapan. Kamu akan membaca penderitaanku baris demi baris dan bisa jadi kamu membenciku. Aku memaklumi. Namun demikian aku berharap kamu mau memuat kisahku ini di internet supaya bisa menjadi pelajaran bagi wanita pengguna internet, khusunya chatting.

Tidak ada satu hari pun yang aku lewati kecuali dengan tangisan, hingga aku kehilangan penglihatan. Setiap hari aku berpikir untuk bunuh diri, berpuluh-puluh kali. Hidup tidak lagi penting bagiku. Setiap saat aku mendambakan kematian. Seandainya aku tidak dilahirkan. Seandainya aku tidak mengenal dunia ini. Seandainya aku tidak diciptakan. Apa yang aku lakukan? Aku sangat bingung. Semua yang ada pada diriku menjadi tanpa rasa dan warna. Aku telah kehilangan kekayaanku yang paling berharga. Dengan tanganku inilah aku membakar diriku dan keluargaku. Aku membakar rumahku, suamiku, dan anak-anakku. Tidak seorang pun mampu mengembalikan apa yang telah aku sia-siakan. Tidak seorang pun mampu membantuku untuk selama-lamanya. Perkara ini telah terjadi dan menjadi stempel hitam dalam sejarah hidupku. Aku menulis kisahku ini untukmu, agar kamu menyebarluaskannya, sehingga bisa menjadi tameng dan filter bagi setiap wanita yang memakai internet. Agar kalian orang-orang yang memiliki pandangan bisa mengambil pelajaran.

Suatu hari salah seorang temanku mengajakku ke rumahnya. Dia adalah salah satu pengguna aktif internet. Dia memicu keingintahuanku terhadap dunia ini. Dia mengajariku bagaimana menggunakan internet. Bagaimana aku membukanya dan mencari website-website yang baik dan buruk. Sesudah itu aku meminta suamiku untuk memasukkan internet ke dalam rumah. Dia melawan permintaanku dengan menolaknya mentah-mentah. Akan tetapi aku berhasil meyakinkannya, lebih-lebih aku merasa jenuh dan kesepian. Aku tinggal jauh dari keluarga dan teman-teman. Aku beralasan bahwa semua temanku menggunakan internet, lalu mengapa aku tidak? Dengannya aku bisa berbincang-bincang dengan teman-teman, paling tidak lebih murah daripada pulsa telepon. Kerna kasihan, suamiku menyetujui permintaanku. Benar, aku mulai berbincang-bincang dengan teman-temanku setiap hari. Sesudah itu suamiku tidak pernah mendengar keluhan dan permintaan apa pun dariku karena telah sibuk dengan permainan baruku. Begitu suamiku keluar rumah aku langsung melahap internet dengan rakus seperti orang gila. Berjam-jam lamanya aku menekuni internet tanpa aku bisa menyadarinya.

Aku sering berharap suamiku pergi, padahal sesaat setelah dia pergi aku pasti merindukannya. Aku mencintai suamiku dengan cinta yang sebenarnya. Dia selalu memeprhatikanku, walaupun kondisi ekonominya kurang bagus. Tanpa berlebih-lebihan dia ingin membahagianku dengan berbagai cara. Seiring berjalannya waktu, aku pun semakin bergantung kepada internet. Aku tidak lagi memikirkan yang lain. Aku lupa mengunjungi kedua orang tuaku, padahal aku selalu melakukannya setiap dua pekan sekali. Suamiku pulang aku selalu kelabakan. Aku langsung saja mematikan komputer. Dia pun merasa heran dengan kelakuanku, dia tidak curiga, bahkan dia ingin melihat apa yang aku lakukan dengan internet di waktu luangnya. Dia meledekku, dengan berkata, “Internet itu sangat luas manfaatnya.” Dia mendorongku untuk mengerti istilah-istilah, membuat website yang bermanfaat untuk masyarakat dan bukan hanya membuang-buang waktu. Sesudah itu aku berusaha membuatnya merasa bahwa diriku serius. Aku ingin belajar dan mengambil manfaat serta tidak lagi chatting dengan teman-teman dan saudara-saudaraku.

Urusan anak aku pasrahkan kepada pembantu. Aku tahu kapan suamiku pulang, maka saat itu aku tidak menyalakan internet. Aku mulai melalaikan diriku. Sebelumnya ketika suamiku pulang aku selalu berpenampilan cantik dan berapkaian rapi. Namun setelah mengenal internet, hal itu sedikit demi sedikit aku lupakan. Hingga untuk selanjutnya hilang sama sekali. Aku mencari-cari alasan. Kukatakan bahwa dia tidak memberitahukan kepulangannya atau dia pulang lebih cepat dari biasanya. Hari-hari berlalu dan suamiku mengetahui bahwa apa yang aku lakukan di depan internet adalah membuang-buang waktu saja. Tapi dia tida terlalu mempedulikanku karena iba melihat kesendirianku dan jauhnya aku dari keluarga. Aku pun menggunakan kesempatan ini dengan baik. Setiap kali dia mencelaku karena keteledoranku mengurus anak-anak, maka aku berpura-pura menangis, air mata buaya, tipuan wanita…. begitu kata mereka. Beginilah kehidupan kami selama kurang lebih enam bulan. Tidak pernah tebayang di benak suamiku bahwa aku telah menggunakan internet dengan sangat buruk.

Di sela hari-hari itu aku menjalin hubungan dengan nama-nama samaran. Aku tidak tahu apakah pemiliknya laki-laki atau wanita. Aku melayani siapa pun yang mengajakku chatting, sekalipun dengan laki-laki. Aku meminta bantuan dari sebagian orang yag tahu tentang komputer dan internet. Dari mereka aku telah belajar banyak, kecuali satu orang. Aku memberikan perhatian lebih besar kepadanya, karena pengalamannya yang luas di bidang ini. Aku selalu berbincang dengannya tanpa beban. Aku bertanya banyak persoalan bahkan secara rutin. Aku menyukai pembicarannya. Komentarnya bisa menghiburku. Hubunganku dengannya semakin erat, hingga berjalan tiga bulan. Kami memiliki banyak kesamaan. Dia merayuku dengan ucapannya yang bermadu. Kata-kata cinta dan rindu yang mungkin tidak seindah kenyataan, akan tetapi setan menjadikannya indah di depan mataku.

Suatu hari dia ingin mendengar suaraku. Dia terus mendesakku. Dia mengancam akan meninggalkanku dan mengacuhkanku di chatting. Aku berusaha melawan permintaan ini, tetapi aku tidak mampu. Aku tidak tahu mengapa. Akhirnya aku menyetujui, tapi hanya satu kali saja. Dia mau menerimanya. Kami menggunakan program perbincagan lewat suara. Walaupun programnya kurang bagus, tetapi suaranya sangat bagus dan ucapannya sangat menyejukkan. Dia memberikan nomor teleponnya, lalu meminta nomor teleponku. Aku masih ragu. Aku belum berani berbincang dengannya untuk waktu yang lama. Aku tahu bahwa setan terkutuk selalu berada di sampingku, membuat semua itu indah di dalam diriku. Aku bergulat melawan sisa-sisa kebencian, agama dan akhlak yang kumiliki.

Hari itu aku mulai berani berbincang dengannya melalui telepon…. inilah awal penyimpangan dalam hidupku. Aku telah terseret terlalu jauh. Aku dan dia seperti penguasa dunia chatting. Masing-masing berusaha untuk semakin dekat dengan yang lain, dan memusuhi siapapun ang memusuhi dan iri kepada kami. Siapa saja yang membaca kata-kataku pasti akan merasa bahwa suamiku tidak mengurusiku atau sering tidak ada di rumah.

Padahal justru sebaliknya, suamiku hanya pergi bekerja dan jarang pergi ke rumah temannya demi diriku. Dengan berjalannya waktu dan dengan semakin menyatunya diriku dengan internet, dalam satu hari aku bisa menghabiskan antara delapan sampai dua belas jam di depannya. Aku semakin membenci kehadiran suamiku di rumah. Aku sering mencelanya karena itu. Benar, dia mendengar ucapanku dan mulai berbisnis kecil-kecilan dengan salah seorang temannya. Setelah itu waktu yang aku buang di depan internet jauh lebih banyak lagi. Walaupun suamiku mengeluh berkali-kali dari tagihan rekening telepon yang mencapai ribuan real, tetapi dia tetap saja tidak mau menghalangiku.

Hubunganku dengan laki-laki itu mulai berkembang. Setelah mendengar suaraku, dia ingin melihatku. Mungkin dia telap bosan dengan suaraku. Aku tidak terlalu memperhatikan atau berusaha untuk memutuskan hubungan dengannya. Aku hanya mencelanya karena itu, dan bisa jadi aku lebih penasaran untuk melihatnya dibanding dia kepadaku. Akan tetapi aku berusaha untuk menutupi hal itu. Bukan karena apa-apa. Aku hanya takut aib ini terbongkar, bukannya takut kepada Allah. Bertambah hari permintaanya semakin menggebu. Dia hanya ingin melihatku sekali saja, tidak lebih. Aku memenuhi permintaannya, dengan syarat ini adalah permintaan pertama dan terakhir darinya, dan dia hanya melihatku tanpa berbicara apapun. Aku yakin dia tidak pernah menduga kalau aku bakal meresponnya, setelah sebelumnya dia hampir putus asa menharap respon dariku.

Dia mengatakan kepadaku bahwa kebahagiaan menyelimuti dirinya. Dia khawatir kalau terjadi apa-apa denganku. Dia berjanji akan menjadi pelindungku dan tidak akan melakukan sesuatu yang aku benci. Dia menyetujui syaratku. Dia bersumpah ahnya satu kali, tidak lebih. Benar, aku meresponnya. Kami berjanji bertemu di sebuah tempat dan pihak ketiganya adalah setan. Dia melihatku dan aku pun melihatnya. (Seandainya aku tidak melihatnya dan dia tidak melihatku). Masing-masing ternyata ternyata saling mengagumi, walaupun hanya sesaat, tidak lebih dari satu menit saja. Suamiku tidak buruk, tidak pendek atau gendut, akan tetapi setan telah membuatku merasakan hal itu. Aku seakan tidak pernah melihat laki-laki dalam hidupku yang lebih tampan darinya. Dia juga berkata bahwa tidak percaya kalu dirinya selama ini ber –chatting dengan wanita sepertiku. Dia mengatakan bahwa kecantikanku telah menawannya. Dia telah tergila-gila kepadaku. Dia mengatakan bahwa dirinya akan bunuh diri jika harus kehilangan diriku. “Seandainya aku tidak melihatmu,” Katanya. Aku semakin besar kepala. Aku melihat diriku jauh lebih cantik dari sebelumnya, bahkan sebelum aku menikah.

Ini adalah awal dari segala-galanya, wahai saudari-saudariku. Dia belum mengetahui kalau aku adalah seorang istri sekaligus ibu. Dia belum mengetahui bagaimana memanfaatkan kelemahanku sebagai wanita. Setan membantunya, bahkan mungkin menggiringnya. Sesudah itu aku ingin melihatku untuk kedua kalinya. Aku menolaknya dengan berbagai alasan. Aku mengingatkan dengan janjinya, untuk hanya melihatku satu kali saja. Bahkan aku berterus terang akalu diriku telah menikah, tidak mungkin melihatnya, dan hubungan ini hendaknya sebatas di internet saja. Dia tidak percaya dan berkata “Tidak mungkin kamu telah menikah dan mempunyai anak.” Dia juga mengatakan, “Kamu seperti bidadari yang harus dilindungi… Kamu seperti malaikat yang semestinya tidak boleh dijamah.” Begitulah, aku jadi tergila-gila mendengar suara dan sanjungannya. Akhirnya aku membenci suamiku yang tidak kenal istirahat demi membahagiakan kami dan memenuhi kebutuhan kami. Jika temaku itu tidak hadir satu atau dua hari, maka aku merasa pusing karenanya.

Aku cemburu jika dia berbicara atau diajak bicara oleh seseorang di chatting. Aku tidak tahu apa yang menimpaku. Aku hanya menginginkannya, lebih dan lebih. Dia merasakan itu dan mengetahui bagaimana memanfaatkanku sampai akhirnya dia berhasil melihatku kembali. Setiap hari dia ingin melihatku, sementara aku berdalih bahwa aku telah menikah. Dia berkata, “Apa yang bisa kita lakukan?”

Apakah kita begini terus lalu mati karena kesedihan?”

Mungkinkah kita bisa saling mencintai, sementara untuk saling mendekati saja tidak bisa? Harus ada jalan keluar. Kita harus berkumpul. Kita harus berada di bawah satu atap.”

Tidak ada suatu cara kecuali dia pasti menggunakannya dan aku pun menolak dan terus menolak. Hingga tibalah ahri itu ketika dia mengatakan ingin menikahiku. Dia memintaku bercerai dari suamiku, agar dia bisa menikah denganku. Jika aku menolaknya maka mungkin dia mati atau gila atau membunuh suamiku. Sebenarnya –walaupun aku sangat taku- aku pun mendapatkan sesuatu di dalam diriku yang mendorongku kepadanya. Pemikiran itu menarik bagiku. Setiap kali dia berbicara denganku aku menggigil. Gigiku terkatup kuat seolah-olah melawan rasa dingin dalam jiwaku. Aku sering bingung. Aku sekarang merasa sebagai tawanan suamiku. Cintaku kepada suamiku bukanlah cinta. Aku mulai membenci tampangnya dan dirinya. Aku telah lupa kepada diriku sendiri dan anak-anakku. Aku membenci suamiku dan hidupku. Sepertinya aku lah satu-satunya wanita yang hidup di dunia ini. Aku mengenal cinta.

Ketika dia mengetahui dengan pasti kadar cintaku kepadanya dan bahwa ia telah menguasai diriku dan perasaanku, maka dia menawarkan kepadaku untuk mencari-cari masalah dengan suamiku lalu membesar-besarkannya, hingga dia mau menceraikanku. Tawarannya ini tidak terlintas di benakku. Sepertinya ini memang satu-satunya jalan keluar bagi problem khayalanku. Dia berjanji akan menikahiku setelah aku bercerai dari suamiku. Dia akan menjadi apapun dalam hidupku dan menjadikanku bahagia sepanjang hayatku. Aku memang tidak mudah begitu saja mempercayai ucapannya, akan tetapi janji nikah yang diucapkannya terus terngiang di dalam benakku. Benar, aku mulai sengaja membuat-buat masalah dengan suamiku setiap hari, hingga aku bisa membuatnya membenciku lalu menceraikanku. Suamiku tidak tahan dengan masalah-masalah sepele ayng aku sulap menjadi masalah paling besar di muka bumi. Suamiku mulai keluar rumah untuk waktu yang lama. Pulang hanya untuk tidur saja. Kami menjalani kehidupan seperti ini selama beberapa minggu dan aku masih terus sengaja membuat masalah. Bahkan masalah itu sudah aku rekayasa sebelumnya.

Adapun laki-laki itu, maka dia mengaku telah bosan menunggu. Dia ngotot ingin melihatku, karena suamiku mungkin tidak menceraikanku secepat itu. Dia ingin melihatku, jika tidak? Pada waktu itu aku menyetujui tanpa ragu sedikit pun. Seeprtinya iblis telah menjelma menjadi diriku dan mengambil keputusan atas namaku. Aku meminta waktu untuk mengatur strategi. Pada hari Rabu, 12 Muharram 1421 H, suamiku memberitahuku bahwa dia akan keluar kota selama 5 hari untuk tugas kantor. Aku merasa inilah peluang emas. Suamiku ingin memulangkanku ke rumah orang tuaku, agar aku bisa beristirahat dari problem-problem ( yang aku rekayasa). Kali ni aku tampak seolah-olah tidak tertekan oleh problem-problem itu. Maka aku menolak pulang ke rumah orang tuaku dengan berbagai alasan. Yang penting aku akan tetap dirumah suamiku. Terpaksa dia menyetujui, dan dia pun pergi pada hari Jum’at. Aku bangun dari tidur, aku membuka chatting dan menutupnya kembali untuk tidur.

Hari Ahad adalah ahri yang telah kami sepakati untuk bertemu. Aku mengontak laki-laki teman chatting-ku itu. Aku katakan bahwa aku siap untuk keluar bersamanya. Aku menyadari bahayaapa ayng timbul dari perbuatanku ini. Akan tetapi urusannya terasa lancar-lancar saja, tanpa sedikitpun ada rasa takut dan khawatir seperti pertama kali aku melihatnya.

Aku keluar bersamanya. Aku telah menjual diriku. Aku keluar bersamanya, karena terdorong keinginan untuk lebih mengenalnya dari dekat. Kami sepakat dan dia datang tepat waktu. Aku masuk mobilnya, kemudian melaju membelah jalanan. Aku tidak merasakan apa-apa, juga tidak merasa nyaman. Inilah pertama kali aku berada dalam satu mobil dengan seorang laki-laki yang tidak ada hubungan apapun denganku. Hanya perkenalan selama tujuh bulan ( itupun lewat dunia maya ). Dia juga tampat tidak nyaman sepertiku. Aku memulai pembicaraan, “Aku tidak bisa keluar lama, aku khawatir suamiku menghubungiku atau terjadi sesuatu.” Dengan sedikit ragu dia menjawab, “Jika dia mengetahui, maka dia akan menceraikanmu dan kamu terbebeas darinya.” Jawaban dan tekanan suaranya tidak menarik hatiku. Kecemasanku semakin bertambah. Kemudian aku berkata kepadanya, “Kita jangan pergi jauh-jauh, aku tidak mau pulang terlambat.” Dia menjawab, “Kamu akan pulang sedikit terlambat, karena aku tidak mungkin dengan mudah melepaskanmu. Aku ingin membuat kedua mataku ini bosan darimu. Karena bisa saja setelah ini aku tidak memiliki kesempatan lagi untuk melihatmu.” Begitulah dia berbciara. Kemudian dia mengambil arah Romansia. Aku tidak tau berapa lama kami berada dalam situasi demikian, samapi tidak mengenal jalan dia lalui. Tiba-tiba aku berada di tempat yang asing. Gelap, seperti tempat peritirahatan atau kebun. Aku mulai berteriak, “Tempat apa ini? Ke mana kamu membawaku?”

Hanya beberapa detik, mobil itu pun berhenti. Seorang laki-laki membuka pintu di sampingku dan menarikku keluar dari mobil dengan kuat. Semuanya seperti halilintar. Aku menangis, berteriak dan meminta belas kasihan mereka. Aku tidak mengerti apa yang mereka katakan. Aku tidak mengerti apa yang terjadi di sekelilinku. Aku merasa sebuah telapak tangan mampir di wajahku dengan keras dan kudengar suara teriakan. Dia menggoncangku dengan sangat kuat. Aku kehilangan kesadaran sesudahnya karena ketakutan yang mendalam. Aku tidak tahu apa yang mereka lakukan kepadaku, siapa mereka dan berapa orang ?

Aku hanya melihat dua orang. Semuanya serba cepat, secepat kilat. Aku tidak tahu diriku lagi kecuali ketika aku terlentang di sebuah ruangan dalam keadaan setengah telanjang. Pakaianku terkoyak. Aku berteriak, menangis dengan tubuh yang kotor. Beberapa detik kemudia seorang serigala masuk sambil tertawa. Aku memohon kepadanya, “Demi Allah, lepaskanlah aku, lepaskanlah aku. Aku ingin pulang.” Dia menjawab, “Kamu akan pulang, tapi kamu harus berjanji untuk tidak menceriatak hal ini kepada siapapun. Jika tidak, maka kamu akan jadi aib besar bagi keluargamu. Dan jika kamu memberitahukan siapa aku atau kamu melapor, maka balasannya akan menimpa anak-anakmu.” Aku berkata,”Aku hanya ingin pulang dan tidak akan memberitahukan hal ini kepada siapa pun.” Aku sangat takut. Tubuhku menggigil dan aku terus mengangis. Inilah yang aku ingat dari peristiwa itu.

Aku tidak tahu apa-apa lagi kecuali rentang waktu yang kau butuhkan sejak keluar dan kembali, yaitu kurang lebih empat jam. Mereka menutup kedua mata-ku dan membawaku ke mobil. Mereka membuangku di dekat rumahku. Dalam kondisi itu….. untung tidak ada yang melihatku. Dengan cepat aku masuk ke dalam rumah. Aku menangis dan menangis samapai kering air mata ini. Sesudah itu aku menyadari kalau mereka telah memperkosaku karena pendarahan yang terjadi padaku. Aku masih belum bisa percaya dengan apa yang menimpaku. Aku tidak pernah keluar kamar. Tidak bisa melihat anak-anakku. Dan tidak ada satu suapan pun yang masuk ke dalam mulutku. Alangkah celakanya diriku. Sungguh, aku telah pergi ke Neraka dengan kedua kakiku sendiri. Bagaimana keadaanku setelah peristiwa ini? Membenci diriku dan mencoba bunuh diri. Aku takut aib ini terbongkar. Aku takut menghadapi sikap suamiku.

Jangan menanyakan anak-anakku. Sejak peristiwa itu, aku tidak lagi mengenal mereka. Aku tidak merasakan keberadaan mereka, juga orang-orang di sekelilingku. Ketika suamiku pulang, dia merasakan perubahan yag tidak pernah dia dapatkan sebelumnya. Kondisiku memburuk. Dengan cepat dia membawaku ke rumah sakit. Alhamdulillah mereka tidak memeriksa diriku secara detail. Mereka menyatakan bahwa kondisiku lemah akibat asupan makanan yang kurang. Tidak lebih. Aku meminta suamiku untuk memulangkanku ke rumah orang tuaku secepat mugkin. Aku sering menangis, sementara keluargaku tidak mengerti apapun. Mereka hanya mengira telah terjadi masalah antara diriku dan suamiku. Aku lihat ayahku berbicaara dengan suamiku. Dia tidak mendapatkan hasil apa-apa. Tidak seorang pun mengetahui apa yang menimpaku. Bahkan keluargaku membawaku kepada sebagian orang pintar untuk di-ruqyah, karena mereka mengira aku diganggu oleh makhluk halus. Aku tidak pantas mendampingi suamiku. Sering aku meminta talak kepadanya. Kalau dulu aku memintanya untuk diriku, akan tetapi sekarang aku memintanya demi suamiku, ayahku dan anak-anakku. Aku tidak pantas hidup di kalangan orang-orang yang baik. Semua yang terjadi pada diriku disebabkan oleh diriku sendiri.

Dengan kedua tanganku sendiri aku telah menggali kubur untuk diriku sendiri. Dan laki-laki teman chatting-ku itu hanyalah pemburu wanita yang masuk ke dunia ini. Semua yang membaca kisah ini pasti akan mengatakan diriku bodoh dan dungu. Aku berharap apa ayng menimpaku ini tidak menimpa orang lain. Aku berharap suamiku yang tidak tahu apa-apa mau memaafkanku. Begitu pula anak-anakku. Akulah biang kerok-nya. Akulah penyebabnya. Kepada Allah aku memohon agar mengampuni dosaku dan memaafkan kesalahan-ku.”

“Sekarang, setelah kamu membaca kisah temanku ini, kata wanita yang menyebarluaskan kisah ini, “sudah saatnya bagi para gadis, para pengguna chatting dan para pemuda pemburu kenikmatan agar takut kepada Allah terhadap diri mereka dan keluarga mereka. Bukan kesalahan internet, akan tetapi kitalah yang tidak menggunakannya dengan baik. Kitalah yang membuang kebaikan dan manfaat besar, mencari keburukan dan apa yang tidak layak bagi akhlak seorang muslim. Semua keburukan terletak pada kekosongan yang tidak kita gunakan dengan baik, dan hasilnya adalah malapetaka. Hasbunallahu wanikmal wakil.

Terakhir aku katakan, “Temanku ini telah wafat beberapa minggu yang lalu. Dia meninggal dengan rahasianya yang terbawa bersamanya. Suaminya tidak menceraikannya. Aku tahu dia sangat sedih sekali. Aku tahu dia mengundurkan diri dari pekerjaannya demi mendampingi anak-anaknya. Sesudah itu aku merasa bahwa hidup ini tidaklah berharga. Tidak ada rasanya, kecuali bagi siapa yang mengembangkannya dalam ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.”

Sumber = Hiwar Hadi’ Ma’a Ukhti Al-Muslimah, hlm. 62-73.

 

 

Penulis berharap bagi siapa saja yang telah membaca kisah ini untuk mendoakan korban agar ia mendapat tempat yang baik di sisi Allah SWT. Semoga pembaca sekalian dapat mengambil hikmah dan semoga peristiwa seperti yang telah diceritakan korban diatas tidak lagi di alami oleh gadis-gadis atau wanita yang lain. (SEMOGA KALIAN SEMUA BERADA DALAM LINDUNGANNYA).

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.