Wejangan Manten

Manten atau kalau dalam bahasa indonesia disebut dengan nikah. Sepertinya pembahasan ini tidak akan ada habisnya sebelum kita sendiri melakukannya haha. Sayangnya yang nulis artikel ini juga belum melakukannya juga :malu: .

Manten, kalau di otak-atik artinya dibagi menjadi tiga yaitu mantep, narima, lan tentrem  (mantap, menerima, dan tenteram) yang artinya, jika ingin temanten itu ya berarti diawali dari kemantapan hati, mengikhlaskan dengan menerima semua kelebihan dan kekurangan pasangan dengan harapan menjadi hidup yang tentram.

Temanten itu gak lepas dari apa yang menjadi syarat wajib, yaitu adanya pasangan :hammer: . Cara memilih pasangan pun ada 4 kriteria seperti yang tertulis dalam hadits nabi : “Wanita itu dinikahi karena empat hal, karena hartanya, karena kecantikannya, karena nasabnya, karena agamanya. Maka pilihlah alasan menikahinya karena agamanya. Kalau tidak maka rugilah engkau” .

Wanita dan pria itu harusnya memang berbeda karena mereka diciptakan pun berbeda sesuai dengan hak dan kewajibannya masing-masing, jadi seorang wanita yang baik gak boleh menuntut yang berlebihan dengan mengatasnamakan emansipasi wanita.

Ada beberapa sifat wanita yang kurang disuka oleh para pria diantaranya adalah sebagai berikut :

Pertama, Egois.  Seorang wanita biasanya banyak yang memiliki sifat egois. Jika ada masalah dan ada perdebatan mereka selalu “Pokokmen kudu ngene”, “Pokokmen aku sing bener, kamu yang salah” :hammer: , ingat lho ya ketika seorang wanita sudah menjadi istri dari seorang pria, maka seorang wanita itu menjadi tanggung jawab dari pria tersebut, jadi sudah selayaknya seorang wanita harus menurut kepada suaminya ketika memang suaminya tidak keluar dari batasan aturan.

Kedua, seneng muni (senang mengorbol, banyak bicara).  Seorang wanita memang diberkati dengan keahlian banyak bicara, nah ini juga harus hati-hati karena sejatinya semakin banyak bicara lama-lama biasanya jadi gosip eh terus jadi nggunjingin orang hehe. .

Ketiga,  Ngaku-aku (Apa yang dilihat itu berarti milik saya). Maksudnya gini, misal ada seorang pengantin baru beli perabotan baru, nah nanti biasanya si istri bilang, ini punyaku, ini punyaku, dan ini punyakku kabeh.   Sebenarnya ini masih terkait dengan sifat pertama sih

Keempat, Lupa pamit kalau mau main.  Nah ini biasanya yang dilupakan oleh umi-umi muda, nek dia pengen kemana-mana kadang gak pamit sama suaminya, padahal sifat-sifat seperti itu bisa memicu fitnah. Contoh : misal si istri mau shopping pas sore hari terus dia lupa pamitan, ehh tiba-tiba suami pulang dan si istri gak ada, pie jal perasaan suamine ?

Kelima dan seterusnya lupa udah gak merhatiin lagi soalnya, tapi yang jelas semoga dari sepenggal artikel ini bisa digunain sebagai rambu-rambu ben suk kalau mau mantenan bisa lebih dewasa dalam menyikapi masalah-masalah rumah tangga ( halah ngomong apa aku haha ).

Leave a Comment