Hukuman sang Anak

Saya merupakan seorang anak yang hidup di pinggir kota dimana masih banyak pepohonan.  Suatu ketika, saat saya beranjak remaja saya diajak oleh ayah untuk pergi ke tengah kota untuk menjumpai kerabat ayah.  Ketika sampai di kota ayah menyuruh untuk menservis mobil di bengkel.  Saya pun lantas pergi ke bengkel dan menunggunya.

Karena lumayan lama, saya putuskan untuk pergi jalan-jalan di kota untuk menonton bioskop.  Asyik berjalan-jalan tidak terasa ternyata pukul sudah menunjukkan waktu magrib, saya pun bergegas menuju bengkel dan menjemput ayah.  “Darimana kamu ?”, tanya ayah. Karena malu, maka saya berbohong dan menjawab “emm, tadi bengkelnya lama yah” jawabku agak sedikit gugup.  Sebenarnya, tanpa sepengetahuan saya, ayah ternyata sudah menelpon bengkel dan menanyakan mobilnya.  Ayah kemudian bilang, “Mungkin, dalam mendidikmu, aku melakukan kesalahan, sehingga anakku berani berbohong, oleh karena itu karena kesalahanku ini, aku akan menghukum diriku sendiri dengan pulang berjalan kaki”.

Aku pun diam, tak membantah, dan sang ayah pun mulai berjalan ke rumah dengan berjalan kaki, padahal berkilo-kilo meter jauhnya.  Aku mengikutinya dengan memelankan mobil dari belakang dan mulai saat itu aku bertaubat untuk tidak berbohong lagi.

Dari cerita diatas, dapat diambil hikmah dimana ketika kita menghukum anak itu tidak perlu dengan kekerasan.  Kekerasan yang tidak terarah justru akan membuat sang anak menjadi pendendam atau bahkan melakukan hal yang sama ke anaknya kelak.

Sumber : dari radio

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.