Perbedaan Jatuh dalam Bahasa Jawa

Jatuh dalam bahasa jawa bisa diartikan banyak kata, diantaranya adalah Kesrimpet, Kesandung, Kejungkel, dan Kejengkang. Perbedaan dari bahasa tersebut adalah dari sebab jatuhnya. Berikut deskripsinya satu persatu.

From : http://www.clipartbest.com/cliparts/4Tb/o7R/4Tbo7RATg.png

Kesrimpet

Kesrimpet merupakan suatu kejadian dimana orang jatuh karena kakinya terlilis sesuatu sehingga orang tersebut kehilangan keseimbangan.  Contoh : Pak Budi kesrimpet ning kebon kae (Pak Budi jatuh di kebon itu). Tanpa dijelaskan pun orang akan berasumsi oh, pak Budi ini jatuh karena kakinya terlilit semak belukar.

Kejungkel

Kejungkel merupakan suatu kejadian dimana orang jatuh dengan orientasi ke depan, dan biasanya didahului dengan kepalanya terlebih dahulu. Contoh : ABG sing kebut-kebutan ning kene mau kejungkel ning sawah (ABG yang kebut-kebutan di sini tadi jatuh ke sawah).  Orang yang mendengar berita tersebut akan paham bagaimana prosesi jatuhnya ke sawah.

Kesandung

Kesandung ini sebenarnya belum tentu jatuh, akan tetapi kehilangan keseimbangan karena kakinya menabrak sesuatu yang kecil, misal batu. Di bahasa Indonesia sudah diserap menjadi kata tersandung atau terantuk.  Contoh : Pak Budi, kesandung watu pas meh ning mejid (Pak Budi, terantuk batu ketika akan ke Mesjid).

Kejengkang

Kejengkang ini merupakan kebalikan dari kejungkel.  Kejengkang merupakan suatu kejadian dimana orang jatuh dengan orientasi ke belakang.  Contoh : Adek kejengkang amarga kesel le ndhodhok (Adek jatuh karena capai Jongkok). Berarti adek jatuhnya ke belakang.

Ada lagi yang disebut Nggeblag. Nggeblag mirip dengan kejengkang, akan tetapi lebih ekstrim karena biasanya dari posisi berdiri. Contoh : Papane kae nggeblag amarga kena angin ( Papan tersebut jatuh karena kena angin ).

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.