Menyikapi pernyataan Sari Roti

Akhir-akhir ini kita dihebohkan dengan aksi boikot yang diserukan oleh salah seorang ulama terkait pernyataan dari sari roti. Dia menganggap bahwa pernyataan tersebut mengandung pernyataan bahwa perusahaan tidak mendukung aksi demo 212 , harusnya perusahaan janganlah membuat pernyataan seperti itu.

Aneh sebenarnya, padahal sebagai seorang muslim kita diwajibkan untuk husnudzan dan kita diperintahkan untuk tidak berbuat dzalim kepada orang lain sekalipun ia kafir. Kenapa kita tidak beranggapan bahwa pihak Sari roti sebenarnya ingin menjelaskan bahwa kalau ingin mengucapkan terimakasih jangan ke perusahaannya tetapi lebih baik ke para penjual ataupun dermawan yang telah memborong produk tersebut. Pernyataan perusahaan ini juga sudah sangat berhati- hati agar tidak ada yang tersinggung, tetapi yang namanya tulisan biasanya suka diartikan ganda oleh pembacanya.

Media harusnya juga berhati-hati dalam menulis fakta-fakta, jangan sampai membuat framing kemudian menggiring fitnah atau perbuatan dzalim oleh pihak-pihak lain. Media harusnya bisa membuat tulisan yang lebih independen.  Berhati-hatilah bagi para penulis dan para media, semua tulisan dan efek yang ditimbulkan dari pemberitaan akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak.

Wahai pembaca yang sedang memboikot sari roti, udahan yuk, ngapain sih memboikot toh masih satu produk made in Indonesia, produknya halal juga, enak juga produknya. Kalau mau memboikot itu mending produk yang merugikan, ya to ? Coba inget yang paling rugi siapa kalau sampai terus-terusan di boikot ? Apakah kita akan terus mendzalimi saudara kita?

Leave a Comment