Kisah Hijrah dari Bank

Sharing dari Pak Nanu, selaku Wakil Pemimpin Wilayah Kanwil BRI Semarang yang baru resign bulan September 2017 kemarin…

Mudah2an bisa memberikan pencerahan bagi kita semua dan bermanfaat untuk saudara2 kita yang belum mendapatkan hidayah…

Mohon maaf apabila saya salah telah melakukan copas.

Hal ini saya lakukan karena beliau merupakan pejabat yang mempunyai jabatan cukup tinggi dan berpengaruh di lingkungan BRI. Sehingga Insya Allah, bisa menjadi magnet bagi yang lain untuk segera berhijrah.
Karena tulisannya SANGAT MENGINSPIRASI.

Sayang sekali apabila tidak saya share…

 

 

 

Hijrahku

(Kisah Pak Nanu eks Wapinwil BRI)

Bismillah,
Saudaraku se iman yg dirahmati Allah…. meskipun bagi teman2 yg sdh lama berhijrah ini merupakan hal yg tdk asing lagi, namun mudah2an kisah saya ini bisa menjadi inspirasi khususnya utk yg belum berhijrah dan atau lama berniat namun tak kunjung terealisasikan.

Kalau boleh saya klasifikasikan, umat Islam terbagi dlm beberapa level of thinking dalam menyikapi profesi kerja di Bank:

1.Menganggap profesi banker adalah pekerjaan terhormat, bank itu tidak riba tetapi sama dengan muamalah lain. Apalagi menghidupkan perekonomian masyarakat dan memberikan nafkah utk pelaku UKM, pekerjanya dan juga keluarganya. Coba pikirkan berapa ratus juta orang yg mendapatkan manfaat?

“Justru orang yg jual es jeruk 10.000,- padahal modalnya 5.000,- itu lebih riba dari bank. Bank itu jualan uang dan marginnya jauh lbh rendah”
(Subhanallah… kalimat ini terucap dari seorang direktur kepada saya, menyikapi resign saya)…. Merinding dan merah muka saya karena ingat QS.Al Baqoroh 275. Maha benar Allah, Ini bukan hanya tertulis di ayat, ternyata benar ada orang yg menganggap jual beli sama dg riba. 😭

2.Menganggap bahwa bank konvensional itu riba, namun karena darurat dan lbh besar maslahatnya maka tidak apa2.

3.Menganggap bahwa dengan telah berdirinya bank syariah, maka bank konvensional riba.

4.Menganggap bahwa bank syariah saat ini hanya mempraktekkan sebagian kecil prinsip syariah, sedangkan sebagian besarnya tetap saja praktek riba. Jadi baik bank konvensional maupun bank syariah yg eksis saat ini sama juga riba.

Mari kita tanyakan kepada diri sendiri, ada di level manakah kita?
Apakah kita berada pada kondisi aman tentrem kerta raharja menikmati profesi sbg banker yg terhormat, atau pada level “apa boleh buat” karena darurat, atau….. mungkin dalam kondisi resah dan gelisah penuh ketakutan akan betapa berat nya dosa riba, namun tidak berdaya karena tidak memiliki keberanian yg cukup utk meninggalkannya?
Silakan direnungkan….

Ketika ada orang lain yg mengetahui rencana kita utk berhijrah, mungkin saja ada pertanyaan yg muncul “jadi selama belasan/ puluhan tahun kerja di bank, kenapa baru sekarang ‘sadar’ nya?”

Ini pertanyaan yg sangat wajar. Kalau pakai bahasa anak gaul mungkin bunyinya….. “jadi selama ini loe ke mana aja?” 😀

Jujur saja…. saya sendiri memasuki 4 kondisi level of thinking, nyaman terninabobokan, semua serba tercukupi, sampai pada akhirnya tergantung sepenuhnya dan kita tak berdaya.
Ketika suatu hari kesadaran kita muncul kita merasa ngeri setengah mati membayangkan azab Allah. Tapi kemudian pelan2 lenyap tertelan oleh kesibukan kerja sehari-hari.

Ketika suatu hari kesadaran muncul kembali, lalu fikiran kita terbayang anak dan isteri di rumah…..”kalau saya berhenti, dari mana anak-istri kita makan?, dari mana biaya sekolah anak2?”…. dan kesadaran kita akan riba akhirnya tertutup kembali.
Ketika sekian bulan atau sekian tahun kemudian banyak kajian tentang riba dan membuat kita semakin faham, lalu yg terfikir di otak kita adalah…. bisnis apa ya yg bisa saya lakukan utk menggantikan profesi banker ini?…. lalu kita coba searching sana-sini, membayangkan, menghitung hitung dst… dan akhirnya pelan2 padam seiring dg kesibukan dan genjotan boss utk mengejar target RKA.

Di lain hari, ketika kesadaran makin kuat, kita selalu berdo’a siang malam….”Ya Allah berilah aku jalan keluar yang baik, berilah jalan nafkah yg halal sebagai pengganti nafkahku saat ini sebagai pegawai bank”.

Do’a terus kita panjatkan namun jalan nafkah barupun tak kunjung jelas. Banyak yg terbayang namun bingung mana yg harus dijalani. Bingung harus mulai dari mana… dan akhirnya gelap gulita.
Sekian tahun kemudian mencoba memulai usaha dagang… ngontrak ruko, dijalani sambil kerja, istripun dilibatkan, dijalani setahun, dan…. rugi, lalu tutup.

Demikianlah hal itu terus berlangsung, sampai akhirnya do’a jahil pun terucap dari mulut dan hati saya… “Ya Allah aku mau meninggalkan riba ini, asal engkau berikan pengganti nafkah yg cukup untuk ku dan anak-isteriku”….
Ehemmmmm… 🙈

“Puluhan tahun kerja di bank, sekarang baru nyadar itu riba… jadi loe selama ini kemana aja?”
Itulah mungkin kata2 yg pas diucapkan oleh anak muda kepada kita yg sdh sepuh ini…

Sebagian besar dari kita sesungguhnya bukanlah tidak tahu bahwa bank itu riba, dan oleh karenanya tidak layak bagi orang yg mengaku beriman utk bekerja di dalamnya. Apapun bidangnya, apakah itu bidang marketing, penunjang bisnis, ataupun back office, sama saja gak ada bedanya. Ibarat team sepak bola, gak bisa jalan seorang penyerang (AO/FO) tanpa adanya penjaga gawang (back ofrice), semua memiliki peran dan andil pada pos nya masing2.

Alasan-alasan yg sering kita pakai dalam mempertahan profesi ribawi kita diantaranya:
1.Menafkahi anak istri, jadi ini bagian dari ibadah
2.Menghidupkan ekonomi masyarakat dan menyediakan lapangan pekerjaan utk jutaan pelaku usaha dan keluarganya
3.Margin yg diambil bank jauh lebih kecil dari margin yg diambil oleh penjual gorengan sekalipun, jadi bank malah lebih baik dibanding jual makanan. ( 😭 )
4.Saat ini tidak ada yg bisa terbebas dari riba baik secara langsung maupun tidak langsung karena sistem ekonomi yg sedang berlangsung adalah sistem ekonomi kapitalis.
Dan sederet alasan2 lain yg dipakai…. yg jika direnungkan oleh hati (bukan oleh otak) semuanya itu tidak lain dan tidak bukan hanyalah PEMBENARAN.

Ya pembenaran atas maksiat yg kita lakukan…. namun betapa banyakpun pasal2 pembenaran yg kita kemungkankan…. jujur tanyakan pada diri, gak bisa dibohongi semua itu gak bisa bikin hati menjadi tentram.

Saudaraku, pernahkan engkau memanjatkan do’a begini?
“Ya Allah saya tahu bahwa pekerjaanku saat ini termasuk profesi ribawi, oleh karena itu ya Allah saya mau tinggalkan riba ini asal engkau berikan hamba jalan nafkah pengganti yg halal dan engkau ridhoi” 🙏

Ya….saya pernah berdo’a seperti itu. Awalnya saya pikir baik2 saja, karena apa sih yg gak mungkin bagi Allah? Dan bukankah itu adalah permohonan yg baik?…….

Tapi setelah sekian lama berlangsung ber kali2…. tiba2 hati kecil saya berkata….. Hai Nanu, apakah engkau pantas melakukan bargaining seperti ini dengan Allah? Bukankan ketika perintah hijrah itu datang dan diwajibkan kepada Nabi dan ummatnya maka dengan serta merta mereka laksanakan tanpa reserve? Apakah mereka bargaining dengan Nabi? Apakah mereka hijrah lantaran ada janji penghidupan yg lebih baik di Yatsrib sana?
Sama sekali tidak saudaraku…. mereka hanya taat kepada Allah dan Rosul saja. Mereka tinggalkan perniagaan, mereka tinggalkan rumah dan kemewahan hidup serta apa saja yg tidak bisa dibawa maka mereka tinggalkan semua.

Nah inilah “moment of truth” nya yg datang ke saya di bulan ramadhan kemarin. Dalam perspektif iman…inilah hidayah. Dan alangkah ruginya jika saya mengabaikan hidayah ini. Oleh karena itu untuk semakin meneguhkan keyakinan maka saya terus tingkatkan ibadah extra ordinary sehingga makin merapat dan mendekatkan diri kepada Allah. Hingga pada akhirnya Allah menghilangkan rasa takut saya akan kehilangan pada dunia yg sangat2 sebentar ini. Allah ilhamkan juga hal yg sama kepada istri dan anak2 saya sehingga semuanya sepakat bulat: Tinggalkan dosa, sambut ampunan dan ridho Allah.
Allah tanamkan keberanian pada saya untuk memutuskan tanggal menulis surat resign, Allah berikan kelancaran pada semua prosesnya, dan Allah berikan rasa bahagia tiada tara.

Saudaraku,
Saya sadar bahwa euforia dan bulan madu ini akan ada batas waktunya.
Ini barulah permulaan. Kisah dan perjalanan ke depan tentu memerlukan banyak perjuangan yg belum tentu berjalan mudah. Oleh karena itu do’a dan dukungan dari saudara2ku tentu sangat diperlukan, agar kelak tidak sampai tergelincir iman. Naudzubillahimindzalik….

Demikian sebagian dari flash back hijrahku. Mohon maaf apabila ada yg kurang berkenan.
Billahi sabilil haq.
Assalamu ‘alaikum warohmatullohi wabarokatuh.

Sumber : Grup TDA Semarang

Leave a Comment