What entrepreneurs really do

 

Kejadiannya 2 minggu lalu. Malam itu turun dari travel BDG – JKT saya memutuskan menggunakan taksi konvensional yang kebetulan mangkal di dekat tempat saya turun.

Seringnya saya memilih utk order taksi Blue Bird via app mereka yg keren, atau taksi online baik itu Uber, Go Car atau Grab. Tapi entah kenapa malam itu saya berpikir, ah kenapa tidak sekali2 kasih kesempatan taksi yang lain.

Ternyata drivernya lagi tiduran, dan bangun dengan amat sangat lamban. Nyaris saya katakan, kalau terpaksa mendingan gak usah, karena gak enak juga ya maksa2 orang nyetir.

Mesin kemudian dinyalakan, AC masih tidak dinyalakan, semakin membuat udara terasa pengap selain tercium bau tak sedap.

Lalu mulailah beliau interogasi saya : tujuan kemana? Saya sebut tujuan saya, nampak beliau mikir2. Lalu terlontarlah pertanyaan yang sudah lama gak saya dengar: gak usah pake argo ya, buletin aja 60ribu.

Saya jawab singkat, kalau tidak pake argo saya cari taksi lain saja gak apa-apa. Lalu dia nyalakan argo tanpa berkata2, dan mulailah berkendara dengan injakan gas dan rem yang begitu terasa. Mungkin itulah layanan kelas argo bagi beliau.

Alhamdulillah saya tiba di tujuan dengan selamat.

Saya tau. Kehadiran layanan transportasi berbasis aplikasi online telah mengganggu bisnis mereka. Tapi bukan berarti mereka tidak dapat bertahan dan menang.

Caranya? Ya saingi layanan transportasi online, dan beri lebih.

Saya semula skeptis waktu taksi Blue Bird membuat app. Namun setelah mencoba, akhirnya ini menjadi app pertama yg saya buka kalau butuh kendaraan. Kenapa? Karena ketepatan waktu nya, dan bisa dijadwalkan.

Taksi online waktu ketersediaannya gak bisa diprediksi. Apalagi jam sibuk. Ini mission critical buat saya. Yang saya mau, selesai meeting turun ke lobby, sesuai jadwal sudah ditunggu. Kalau mau ke bandara, sementara waktu mepet, jam sibuk, bisa dijemput tepat waktu. Kalau begini harga gak masalah.

Lalu apa lagi? Banyak. Ruang berkembangnya unlimited.

Saya membayangkan transportasi konven sangat bisa berkolaborasi dengan perusahaan telco, perbankan, perhotelan, penerbangan, hingga retail. Lalu dipetakan rantai nilai nya, sesuai kebutuhan pelanggan.

Imagine … one day saya order taksi konvensional via app untuk ke bandara, saat dijemput tepat waktu saya sudah di cek-in kan, boarding pass sudah di cetak, berikut ada paket MacDonalds atau satu cup Latte Starbucks sesuai pesanan saya, sebagai teman sarapan on the way ke Bandara. How about that? Lewat dah semua layanan taksi online.

Karena berkolaborasi adalah pilihan terbaik untuk bertahan. Dan kemudian menang sama2.

That’s what entrepreneurs really do. Real entrepreneur tentu saja.

Bukan dengan memberangus, melarang, razia, sementara layanan yg Anda berikan juga tidak semakin baik.

Ini berlaku untuk semua bisnis.

Asal mau membuka diri, bersedia berubah, bersedia membayar ongkos belajarnya, bersabar dalam prosesnya. Saya yakin bisa.

Tentu saja jangan lupa berdoa.

Dan, mmm … pastinya didampingi seorang Coach yg tepat akan sangat membantu.

Fauzi Rachmanto

Leave a Comment